Hari Santri Nasional

Catatan Harian Santri

Perjuangan bangsa indonesia untuk meraih kemerdekaan tak berhenti setelah Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan teks proklamasi pasalnya pada 29 September 1945, pasukan sekutu dalam hal ini Inggris tiba di Indonesia. Awalnya kedatangan pasukan dibawah pimpinan Letnan Jendral Sir Philip Christison ini bertujuan untuk mengevakuasi interniren, membebaskan tawaran perang, hingga melucuti dan memulangkan tentara Jepang pasca kekalahan mereka di Perang Dunia ke II.

Pemerintah Indonesia kala itu mengizinkan inggris untuk menjalankan misinya tersebut dengan syarat tak boleh ada satupun pasukan Belanda yang menyelundup. Dengan gestur baik ini, Pemerintah berharap kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia yang baru diproklamasikan itu bisa mendapatkan pengakuan dari Sekutu sebagai Pemenang Perang Dunia II.

Pada tanggal 22 Oktober 1945, pertemuan para Kiai dan santri tersebut menyepakati bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam. Kesepakan ini dikenal dengan istilah Resolusi Jihad. Martin Van Bruinessen dalam tulisannya yang berjudul NU (Tradisi, Relasi-relasi kuasa, Pencarian Wacana Baru) menyebut Resolusi Jihad merupakan pengakuan kalangan santri terhadap legitimasi pemerintah Republik Indonesia.

Santri merupakan salah satu manusia unggulan, selalu terdepan dalam melaksanakan perintah-perintah agama. Apa yang menjadi larangannya harus dijauhi. Semua dilakukan bukan serta merta ingin mendapatkan pujian namun mengharap ridha Allah Swt. Penempatan diri selama bertahun-tahun di pesantren dari mulai belajar hidup mandiri, tanggung jawab, kerja keras, suka menolong dan lain lain.

Santri adalah orang yang secara serius belajar tentang ajaran-ajaran suci, orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya, kata santri bisa jadi berasal dari bahasa Jawa karna memang santri paling banyak hingga saat ini di Jawa timur, Jawa tengah, Jawa barat dan memang secara sejarah berasal pertama kali dari jawa.

Bahasa Arab Bagian Ilmu Nahwu, kitab Tuhfatu Al-Washobiyah
DENISIFI KALAM: Kalam menurut ulama nahwu adalah apa yang 4 perkara terkumpul padanya:
1. Harus berupa lafadz
2. Murokkab
3. Mufid
4. Diletakkan oleh orang arab
At-Tuhfatul Washobiyah fii Tashiili -Matni Al-Jurumiyyah hal. 14 – 16

JENIS-JENIS KALAM:
1. Isim
2. Fi’il
3. Huruf yang meniliki makna

PEMBAGIAN FI’IL:
1. Fi’il Madhi
2. Fi’il Mudhari
3. Fi’il Amr

PEMBAGIAN HURUF:
1. Huruf ma’aniy
2. Huruf mabaniy

TANDA-TANDA ISIM:
1. Khafadh
2. Tanwin
3. Masuk nya alif dan lam
4. Masuknya huruf khafadh

BEBERAPA FAIDAH:
– Tanda-tanda ini ada yang terletak diawal kata dan ada yang terletak diakhir kata
– Khafadh adalah istilah dari ulama kufah sedangkan jarr adalah istilah ulama bashrah adapun makna nya sama
– Huruf qasam (sumpah) termasuk dari huruf-huruf jar
– Kadang didalam isim terkumpul 2 tanda atau lebih
– Dari tanda-tanda isim diatas ada yang tidak akan mungkin terkumpul dalam sebuah kata ( Seperti tanwin dan alif & lam )
– Pada sebuah kalimat kadang dapat dihukumi sebagai isim, karna terdapat tanda isim dikalimat tersebut dan kadang juga tidak terdapat tanda isim namun dia dihukumi sebagai isim manakala dia dapat menerima tanda isim.
At-Tuhfatul Washobiyah fii Tashiili -Matni Al-Jurumiyyah hal. 20 – 24

TANDA-TANDA F’IL:
1. Qod
2. Sin
3. Saufa
4. Ta’u ta’nitsi as-sakinah

BEBERAPA FAIDAH:
– Tanda-tanda ini ada yang terletak diawal kata dan ada yang terletak diakhir kata
– Tanda-tanda fi’il itu terbagi 3:
• Khusus masuk pada fi’il madhi seperti
• Khusus masuk pada fi’il mudhari seperti
• Bisa masuk pada fi’il madhi dan mudhari’
– Pada sebuah kalimat kadang dapat dihukumi sebagai fi’il, karna terdapat tanda fi’il dikalimat tersebut dan kadang juga tidak terdapat tanda fi’il namun dia dihukumi sebagai fi’il manakala dia dapat menerima tanda fi’il
At-Tuhfatul Washobiyah fii Tashiili -Matni Al-Jurumiyyah hal. 25 – 29

TANDA HURUF:
Apa yang tidak cocok bersama nya tanda-tanda isim dan tanda-tanda fi’il
BEBERAPA FAIDAH:
– Huruf tidak bisa menerima tanda-tanda dari isim maupun fi’il
– Huruf terbagi 3:
• Khusus untuk isim seperti huruf jar dan selain nya
• Khusus untuk fi’il seperti huruf penjazm dan selain nya
• Bisa untuk fi’il dan juga untuk isim dan selain nya
At-Tuhfatul Washobiyah fii Tashiili – Matni Al-Jurumiyyah hal. 30

IROB DAN BINA
I’rob adalah perubahan akhir kata yang disebabkan perbedaan penyakit yang masuk padanya apakah perubahannya secara lafaz atau takdir.

BEBERAPA FAIDAH:
– I’rob secara bahasa memiliki banyak makna diantara nya menampak kan dan menjelaskan
– Makna dari lafaz adalah apa yang nampak diakhir kata pada isim atau fi’il
– Makna dari takdir adalah apa yang tidak nampak diakhir kata tapi hanya di niatkan didalam nya
– Pembagian perubahan secara takdir:
• Apa yang di takdirkan karena ber’udzur perubahan ini terjadi pada:
– ISIM MAQSHUR
– FI’IL MUDHARI MU’TAL AKHIR ALIF Dan makna ta’adzur bahwa alif asal nya tidak menerima harakat sebab dia selalu sukun.
• Apa yang di takdirkan karena berat perubahan ini terjadi pada:
– ISIM MANQUSH seperti
– FI’IL MUDHARI MU’TAL AKHIR YA’
– FI’IL MUDHARI MU’TAL AKHIR WAU
Dan makna tsiqal bahwasanya wau dan ya’ asal nya bisa menerima harakat akan tetapi berat atas kedua nya
• Apa yang di takdirikan karena menyesuaikan perubahan ini terjadi pada setiap isim yang Disandarkan kepada ya’ mutakallim Dan makna munasabah adalah bahwasanya ya mutakallim tidak cocok kecuali kasrah pada huruf sebelum ya
– Bina secara bahasa adalah meletakkan sesuatu diatas sesuatu diatas ke umuman yang diinginkan dengan nya tetap.
adapun secara istilah adalah tetap nya akhir kata dalam satu keadaan
– Perbedaan antara i’rab dan mu’rab adalah bahwasanya i’rob adalah perubahan itu sendiri yang terjadi pada akhir kata. adapun mu’rob adalah kata itu sendiri yang terjadi padanya perubahan
– Perbedaan antara bina’ dan mabni adalah
bina dan mabni bahwasanya bina adalah tetap nya akhir sebuah kata. adapun mabni adalah kata itu sendiri yang tetap dalam satu keadaan
At-Tuhfatul Washobiyah fii Tashiili -Matni Al-Jurumiyyah hal. 31 – 36

PEMBAGIAN I’ROB
I’rob itu terbagi 4:
BEBERAPA FAIDAH:
– Makna Rofa’ adalah perubahan yang dikhususkan tandanya dhamma atau apa yang menggantikan nya
– Makna Nashab adalah perubahan yang dikhususkan tandanya fathah atau apa yang menggantikan nya
– Makna Khofad adalah perubahan yang dikhususkan tandanya kasrah atau apa yang menggantikan nya
– Makna Jazm adalah perubahan yang dikhususkan tandanya sukun atau apa yang menggantikan nya
At-Tuhfatul Washobiyah fii Tashiili -Matni Al-Jurumiyyah hal. 27 – 29

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top