Kepemimpinan

Kepemimpinan chapter IV

Kepememimpinan adalah suatu bentuk dominasi yang didasari oleh kapabilitas atau kemampuan pribadi, yaitu mampu mendorong dan mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan tersebut juga berdasarkan pada (1) akseptasi atau penerimaan oleh kelompok dan (2) pemilikan keahlian khusus pada satu situasi khusus. Maka dalam iklim demokratis kita berkepentingan dengan kepemimpinan demokratis, demi pencapaian kesejahteraan dan keadilan yang lebih merata. Namun kenyataan menunjukkan, bahwa dalam masyarakat modern yang banyak menonjolkan individualisme sekarang banyak terdapat orang yang sangat ambisius, bahkan paling ambisius untuk muncul menjadi pemimpin demi kepentingan kepentingan pribadi. Orang yang teramat suka menonjolkan dan mengiklankan diri sendiri itu yang dengan segala upaya licik demi menjabat dikursi kepemimpinan, biasanya adalah tipe orang yang sakit atau abnormal. Maka dapat dinyatakan, bahwa banyaknya pemimin abnormal (Korupsi, Patologis, Egoistis, Tidak Bertanggung Jawab, Berlaku Kriminal, Sadis dan lain-lain), itu jelas mencerminkan adanya masyarakat yang sakit. Dengan kata lain, masyarakat yang sakit akan memprodusir pemimpin-pemimpin yang sakit atau abnormal.

PEMIMPIN DEMOKRATIS TULEN, Pemimpin demokratis dapat digolongkan dalam :
1. Pemimpin demokratis tulen dan
2. Pemimpin demokratis palsu atau pura-pura (pseudo-demokratis).
Pemimpin demokratis tulen itu merupakan pembimbing yang baik bagi kelompoknya. Dia menyadari bahwa tugasnya ialah mengkoordinasikan pekerjaan dan tugas dari semua anggota nya, dengan menekankan rasa tanggung jawab dan kerja sama yang baik kepada setiap anggota.
PEMIMPIN DEMOKRATIS PALSU Sebaliknya, Pemimpin demokratis pada umumnya mempunyai sifat sifat sebagai berikut : dia memang berusaha untuk bersikap demokratis tetapi karena dia berkarakter lemah, merasa selalu bimbang dan tidak memiliki pendirian. Pada kepemimpinan yang otokratis, pemimpin memaksakan rencananya tanpa berkonsultasi kepada kawan-kawannya dan tidak pernah menjelaskan isi sepenuhnya dari rencananya. Dia mengakomodokan setiap langkah, tanpa menghiraukan sama sekali tata kerja yang paling sesuai dengan aspirasi kelompoknya, tidak memperhitungkan iklim emosional kelompk serta bentuk kerja kooperatif.

Timbulah kemudian reaksi agresivitas yang ditujukan kepada pemimpin, atau diarahkan kepada kawan sekerja yang lemah (dalam posisi lemah). Bahkan tidak jarang mereka juga melontarkan agresivitas terhadap benda-benda mati, misalnya :
a. Merusak barang-barang milik organisasi
b. Mengadakan sabotase
c. Mencuri barang-barang, pesawat-pesawat, onderdil dan lain-lain
d. Munculnya apati total dari bawahan atau anak buah
e. Orang jadi suka membolos, tidak masuk kerja tanpa mengemukakan alasan yang wajar (absenisme tinggi)
f. Orang dengan sengaja datang terlambat ke kantor atau dinas
g. Meninggalkan tugas, desersi
h. Bersikap acuh tak acuh dan lain lain.

KEPEMIMPINAN ABNORMAL Karna yang paling penting kita membutuhkan pemimpin yang
1. Baik, bijaksana dan penuh rasa kemanusiaan
2. Tidak menempatkan individu-individu yang egoistis dan over ambisius, yang selalu mementingkan kepentingan sendiri dan “gila kekuasaan” sebagai pemimpin.
3. Lebih-lebih lagi tidak mengangkat seorang pemimpin yang tidak mampu mengemban tanggung jawab. Sebab, orang yang gila kekuasaan itu adalah orang yang sakit, yang ingin mengkompensasikan sifat-sifat bawaannya yang inferior ke dalam bentuk penguasaan terhadap orang lain. Gila kekuasaan ini erat kaitannya dengan delinquency atau kejahatan, sebab delinquent itu selalu cenderung memaksakan keinginan sendiri agar semua orang berbuat seperti apa yang mereka perintahkan, tanpa mengindahkan hak-hak dan kebebasan insani orang lain. Merampas hak orang lain dan melanggar martabat orang lain itu pada umumnya dicapai dengan jalan keriminal untuk mendapatkan posisi sosial, kekuasaan besar dan lisensi-lisensi khusus secara legal. Juga untuk memuaskan ambisi ambisi pribadinya, tanpa tentangan dari siapapun juga. Dengan sembunyi sembunyi, kekuasaannya dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri, dengan akibat sangat merugikan orang banyak. Efesiensi kepemimpinan itu jangan hanya diukur dengan kriteria materiil finansiil dan produktivitas yang menguntungkan organisasi saja, akan tetapi lebih dikaitkan dengan Tujuan human atau manusiawi apa, serta Ongkos materiil dan ongkos materiil dan ongkos immaterial seberapa besar yang sudah dikeluarkan oleh sebuah lembaga atau organisasi.

Betapapun juga pandai dan efesiensinya seorang pemimpin dalam satu bidang teknis, bila dia tidak memiliki keterampilan sosial untuk menjalin komunikasi human dengan bawahan dan anggota kelompoknya, pastilah orang sedemikian itu bisa membahayakan kehidupan lembaga. Selanjutnya, etika pemimpin yang tidak dapat diingkari itu ialah ia bertugas untuk memimpin, mengatur, mengelola, me-manage, dengan rasa tanggung jawab yang tinggi, mengarahkan kelompok atau lembaga yang dipimpinnya kepada tujuan ekonomis dan tujuan sosial atau kesejahteraan dan mengarah pada peningkatan martabat manusia. Keperibadian pemimpin itu merupakan variable yang tidak mudah atau tidak dapat dikontrol dan dikendalikan. Pribadi pemimpin yang otoriter, dogmatis, sangat kaku, atau fixed dan tidak memiliki kepercayaan diri, biasanya menyebarkan banyak frustasi, kecemasan dan konflik di kalangan anak buahnya. Memang ada kalanya kepemimpinan yang ketat dan otoritas ketat yang sangat restriktif itu pada saat-saat tertentu bisa menjadi alat koordinasi dan alat control yang efisien untuk menegakkan orde atau peraturan. Namun tidak dianjurkan untuk berlaku lama karena akan menimbulkan, ketegangan, kecemasan dan ketakutan kepada para pegawai.

Iklim demokrasi dengan landasan filsafat pancasila sekarang ini jelas mendambakan adanya kesejahteraan dan keadilan yang lebih merata. Maka semakin otoriter dan tiranik para pemimpin pada bawahan sampai paling atas dan disemua bidang, semakin kuatlah tumbuhnya kebutuhan rakyat kecil untuk melontarkan oposisi. Yaitu beroposisi secara konstruktif untuk mengubah keadaan sosial menjadi lebih baik lagi. Sehubungan dengan semua itu, iklim demokratis dalam masyarakat kita yang pluriform (bineka) itu tidak mungkin dapat tercapai
a. Tanpa adanya keediaan untuk berkorban pada setiap diri warga Negara dan
b. Tanpa adanya kesediaan untuk berkorban pada setiap diri warga negara khususnya para pemimpin demi pencapaian tujuan kesejahteraan. Jika hendak sejahtera sentosa, maka diperlukan korban dan biaya. Oposisi dan konflik-konflik itu akan bersifat positif membangun, apabila dilandasi dengan ketulusan hati masing-masing dan ide-ide kooperatif di antara para pemimpin serta pihak yang dipimpin.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top