MEMAHAMI SUMBER DAYA MANUSIA ERA MILENIAL

A. Pendahuluan
Pemimpin perusahaan mulai merasakan kecemasan yang tinggi atas usaha atau perusahaan yang dipimpinnya. Perubahan perilaku konsumen, market, sampai perubahan perilaku tenaga kerja menjadi alasan kecemasan dari para pemimpin perusahaan. Era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) dan disruptif teknologi ini juga fenomena yang harus dihadapi oleh para pemimpin perusahaan. Apa yang harus dilakukan oleh pimpinan bila fenomena seperti ini terjadi. Pemimpin perlu memiliki sikap coaching state, yakni kondisi mental yang objektif, no judgement, empati, kesungguhan untuk betul-betul mendengar, menahan pendapat apalagi perintah, disiplin untuk bertanya secara open-ended, memahami karyawan sebagai manusia secara utuh.

Pemimpin sudah harus merubah orientasi leadership dan mulai membangun kebiasaan mental dan perlu dilatih secara bertahap, sebagai tahap dasar mempelajari coaching. Maka konsep atasan bawahan dalam leadership akan bergeser menjadi mitra, sinergi, dan bahkan konsep share ekonomi. Dengan coaching oleh perusahaan, maka karyawan diharapkan akan menemukan potensi yang optimal dalam dirinya. Kumpulan individu yang optimal kemampuannya dengan arahan yang jelas, akan menjadi kekuatan yang besar dalam menghadapi era VUCA dan disruptif teknologi bagi perusahaan. Berani beda untuk menghadapi perubahan dan mempertahankan keberlanjutan usaha.

Bila melihat strukturnya, jelas generasi millennials adalah pengisi utama pasar kerja saat ini. Kehadiran mereka dengan segala plus minus perilakunya merupakan modal sekaligus tantangan bagi manajer SDM untuk bisa mengelolanya sesuai dengan tujuan perusahaan. Generasi millennials merupakan generasi yang unik, dan berbeda dengan dengan generasi lain. Hal ini banyak dipengaruhi oleh munculnya telepon pintar, meluasnya internet dan munculnya jejaring media sosial. Ketiga hal tersebut banyak memengaruhi pola pikir, nilai-nilai dan perilaku yang dianut.

Survei tersebut menunjukkan terdapat lima karakteristik millennials sebagai seorang karyawan, di antaranya memiliki keyakinan tujuan hidup, keyakinan diri yang tinggi, ramah teknologi, berpikiran terbuka dan suka membangun hubungan. Ini informasi penting, bagi para manajer SDM dan atasan dalam menyusun strategi. Generasi milenial di tempat kerja telah menantang batas-batas kerja tradisional. Sementara generasi sebelumnya jarang mempertanyakan manajemen, generasi milenial yang memiliki ekpektasi, prioritas dan etos kerja yang unik telah mendorong manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melakukan perubahan untuk beradaptasi dengan perubahan kultur kerja saat ini.

Tantangan HRD dalam menghadapi para milenial adalah perpindahan kerja, karena mereka senantiasa menginginkan tugas yang menantang dan pertumbuhan. Gaji yang lebih bukan solusi, melainkan manajemen SDM yang interaktif, kultur perusahaan yang menarik, inovasi dan peningkatan karir. Perubahan dalam manajemen Sumber Daya Manusia ini bukan hanya masalah mengabaikan jam kerja 9-5 yang tradisional dan mengizinkan gaya berpakaian casual dalam perusahaan. Perubahan yang diperlukan adalah yang menata ulang proses HR sebagai basis pengelolaan SDM untuk mengeluarkan yang terbaik dari generasi milenial ini.

Kultur perusahaan menjadi penting dalam mempertahankan orang kunci dan menjaga generasi milenial dari mencari peluang lain di luar. Mereka bekerja sangat baik dalam kultur yang beragam dan inklusif. Atasan berperan penting dalam mempertahankan karyawan. Faktor lainnya termasuk komunikasi yang terbuka dengan manajemen dan mentor. Kultur kerja yang positif mendorong kerja sama, inovasi, dan hasil-hasil. Generasi milenial ini tertarik pada perusahaan yang menggunakan teknologi. Mereka tidak mau terikat pada tempat kerja tertentu dan selalu terhubung. Aplikasi HRD modern
mendukung para pekerja ini dengan hanya satu tombol sentuh. Training bisa dilakukan melalui video and modul-modul e-learning. Namun ada beberapa tantangan bagi HRD dalam menangani para generasi milenial ini. Biasanya di awal, mereka perlu diajarkan menggunakan akal sehat seperti berkomunikasi tatap muka yang baik, menjaga kontak mata dan tepat waktu.

B. Mengelola Karyawan Milenialis
Manajemen SDM untuk generasi milenial perlu mengakomodasi gaya kerja mereka yang lebih suka di mana saja daripada di kantor setiap saat. Mereka lebih senang melihat atasan sebagai mentor dan pelatih daripada bos. Kolaborasi dan mengikutkan mereka dalam proses akan membuat para milenial merasa diterima, memberikan hasil kerja yang berkualitas, dan mempertahankan mereka. Berikut ini beberapa strategi dalam mengelola generasi milenial dalam perusahaan:

1. Membangun sistem dan struktur yang baik laporan dengan tenggat waktu, goal dinyatakan dengan jelas dan progres dievaluasi. Berikan batasan-batasan.
2. Berikan panduan dan kepemimpinan yang baik. Lakukan coaching dengan komitmen. Mereka ingin cepat berhasil dengan bantuan Anda.
3. Yakinkan mereka kalau mereka bisa, seperti yang orang tua mereka ajarkan. Jangan menghambat mereka. Dorong mereka untuk mengeluarkan pendapat.
4. Dorong mereka dengan suasana kerja sama tim yang baik. Mereka selalu ingin berkumpul bersama.
5. Dengarkan mereka. Karyawan milenial mempunyai ide dan pemikiran yang ingin didengarkan.
6. Berikan mereka tantangan dan perubahan. Aktivitas yang membosankan buruk bagi mereka. Mereka suka mencari sesuatu yang baru dalam Apa yang akan terjadi selanjutnya selalu menarik perhatian mereka. Apresiasi mereka.
7. Manfaatkan gadget mereka. Generasi milenial bahkan mau membayar biaya sendiri untuk tetap terhubung dengan dunia sekitar mereka.
8. Ciptakan tempat kerja yang seimbang dengan kehidupan pribadi mereka. Generasi milenial terbiasa memiliki aktivitas yang padat. Mereka berolahraga, keluar dengan teman, bergabung dengan yayasan sosial dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Mereka bekerja keras, tapi tidak mengikuti jam kerja tetap seperti generasi sebelumnya. Rumah, keluarga, menghabiskan waktu bersama anak-anak dan keluarga adalah prioritas mereka. Ingatlah hal ini, karena ini penting bagi mereka.
9. Buat tempat kerja menyenangkan. Para milenial menikmati pekerjaan mereka. Mereka mau bergaul di tempat kerja. Anda perlu kuatir jika pekerja milenial anda tidak makan siang bersama atau merancang kegiatan perusahaan bersama sama.
Bantulah karyawan lain untuk mendukung generasi milenial.
10. Manajemen SDM yang baik untuk generasi milenial melibatkan integritas, kepercayaan, perubahan yang terus menerus dan pertumbuhan yang cepat. Anda harus menjadi pemimpin yang berani membuat perubahan.

About Is

Check Also

Hubungan Industrial

A. Pengertian Hubungan Industrial Hubungan industrial adalah hubungan semua pihak yang terkait atau berkepentingan atas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *