Breaking News

Memahami Sumber Daya Manusia Era Milenial

Pemimpin perusahaan mulai merasakan kecemasan yang tinggi atas usaha atau perusahaan yang dipimpinnya. Perubahan perilaku konsumen, market, sampai perubahan perilaku tenaga kerja menjadi alasan kecemasan dari para pemimpin perusahaan. Era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) dan disruptif teknologi ini juga fenomena yang harus dihadapi oleh para pemimpin perusahaan. Pemimpin perlu memiliki sikap coaching state, yakni kondisi mental yang objektif, no judgement, empati, kesungguhan untuk betul-betul mendengar, menahan pendapat apalagi perintah, disiplin untuk bertanya secara open-ended, memahami karyawan sebagai manusia secara utuh. Pemimpin sudah harus merubah orientasi leadership dan mulai membangun kebiasaan mental dan perlu dilatih secara bertahap, sebagai tahap dasar mempelajari coaching.

Maka konsep atasan bawahan dalam leadership akan bergeser menjadi mitra, sinergi, dan bahkan konsep share ekonomi. Dengan coaching oleh perusahaan, maka karyawan diharapkan akan menemukan potensi yang optimal dalam dirinya. Kumpulan individu yang optimal kemampuannya dengan arahan yang jelas, akan menjadi kekuatan yang besar dalam menghadapi era VUCA dan disruptif teknologi bagi perusahaan. Berani beda untuk menghadapi perubahan dan mempertahankan keberlanjutan usaha. Akhir-akhir ini, menggunjingkan perilaku generasi millenials lahir setelah 1980-1990 adalah bahan pembicaraan sehari-hari di dunia kerja. Tentu saja penggunjingnya adalah para atasan mereka, lahir lebih awal dan masuk dalam kelompok generasi X lahir pada 1965-1980 yang notabene adalah para pengendali korporasi saat ini.

Setelah perang dunia ke dua, kelompok demografs (cohort) dibedakan menjadi 4 generasi yaitu generasi baby boomer, generasi X (Gen-X), generasi millennials dan generasi Z. Generasi baby boomer adalah generasi yang lahir setelah perang dunia kedua (saat ini berusia 51 hingga 70 tahun). Disebut generasi baby boomer karena di era tersebut kelahiran bayi sangat tinggi. Sementara generasi X adalah generasi yang lahir pada tahun 1965 hingga 1980 (saat ini berusia 37 hingga 52 tahun). Generasi millennials adalah generasi yang lahir antara tahun 1981-2000, atau yang saat ini berusia 17 tahun hingga 36 tahun, disebut juga dengan generasi Y. Generasi yang lahir setelah 2000, disebut sebagai generasi Z. Bila melihat strukturnya, jelas generasi millennials adalah pengisi utama pasar kerja saat ini. Kehadiran mereka–dengan segala plus minus perilakunya merupakan modal sekaligus tantangan bagi manajer SDM untuk bisa mengelolanya sesuai dengan tujuan perusahaan.

Generasi millennials merupakan generasi yang unik, dan berbeda dengan dengan generasi lain. Hal ini banyak dipengaruhi oleh munculnya telepon pintar, meluasnya internet dan munculnya jejaring media sosial. Ketiga hal tersebut banyak memengaruhi pola pikir, nilai-nilai dan perilaku yang dianut. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Center for Human Capital Development (CHCD) PPM Manajemen 2017, karyawan millennials memiliki pandangan yang berbeda soal mengabdi kepada perusahaan. Karyawan dari generasi ini bahkan mementingkan nilai seperti tanggung jawab sosial ketimbang renumerasi pada perusahaan.

Survei tersebut menunjukkan terdapat lima karakteristik millennials sebagai seorang karyawan, di antaranya memiliki keyakinan tujuan hidup, keyakinan diri yang tinggi, ramah teknologi, berpikiran terbuka, dan suka membangun hubungan. Ini informasi penting, bagi para manajer SDM dan atasan dalam menyusun strategi.Tantangan HRD dalam menghadapi para milenial adalah perpindahan kerja, karena mereka senantiasa menginginkan tugas yang menantang dan pertumbuhan. Gaji yang lebih bukan solusi, melainkan manajemen SDM yang interaktif, kultur perusahaan yang menarik, inovasi, dan peningkatan karir.

Perubahan dalam manajemen Sumber Daya Manusia ini bukan hanya masalah mengabaikan jam kerja 9-5 yang tradisional dan mengizinkan gaya berpakaian casual dalam perusahaan. Perubahan yang diperlukan adalah yang menata ulang proses HR sebagai basis pengelolaan SDM untuk mengeluarkan yang terbaik dari generasi milenial ini. Generasi milenial ini tertarik pada perusahaan yang menggunakan teknologi. Mereka tidak mau terikat pada tem pat kerja tertentu dan selalu terhubung. Aplikasi HRD modern mendukung para pekerja ini dengan hanya satu tombol sentuh. Training bisa dilakukan melalui video and modul-modul e-learning.

Namun ada beberapa tantangan bagi HRD dalam menangani para generasi milenial ini. Biasanya di awal, mereka perlu diajarkan menggunakan akal sehat seperti berkomunikasi tatap muka yang baik, menjaga kontak mata, dan tepat waktu.
Mengelola Karyawan Milenialis. Berikut ini beberapa strategi dalam mengelola generasi milenial dalam perusahaan:

a. Membangun sistem dan struktur yang baik – laporan dengan tenggat waktu, goal dinyatakan dengan jelas dan progres dievaluasi. Berikan batasan-batasan.
b. Berikan panduan dan kepemimpinan yang baik. Lakukan coaching dengan komitmen. Mereka ingin cepat berhasil dengan bantuan Anda.
c. Yakinkan mereka kalau mereka bisa, seperti yang orang tua mereka ajarkan. Jangan menghambat mereka. Dorong mereka untuk mengeluarkan pendapat.
d. Dorong mereka dengan suasana kerja sama tim yang baik. Mereka selalu ingin berkumpul bersama.
e. Dengarkan mereka. Karyawan milenial mempunyai ide dan pemikiran yang ingin didengarkan.
f. Berikan mereka tantangan dan perubahan. Aktivitas yang membosankan buruk bagi mereka. Mereka suka mencari sesuatu yang baru dalam pekerjaan. Apa yang akan terjadi selanjutnya selalu menarik perhatian mereka. Apresiasi mereka.
g. Manfaatkan gadget mereka. Generasi milenial bahkan mau membayar biaya sendiri untuk tetap terhubung dengan dunia sekitar mereka.
h. Ciptakan tempat kerja yang seimbang dengan kehidupan pribadi mereka. Generasi milenial terbiasa memiliki aktivitas yang padat. Mereka berolahraga, keluar dengan teman, bergabung dengan yayasan sosial, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
i. Buat tempat kerja menyenangkan. Para milenial menikmati pekerjaan mereka. Mereka mau bergaul di tempat kerja. Anda perlu kuatir jika pekerja milenial Anda tidak makan siang bersama atau merancang kegiatan perusahaan bersama-sama. Bantulah karyawan lain untuk mendukung generasi milenial.
j. Manajemen SDM yang baik untuk generasi milenial melibatkan integritas, kepercayaan, perubahan yang terus menerus, dan pertumbuhan yang cepat. Anda harus menjadi pemimpin yang berani membuat perubahan.

Caranya? Berpikirlah seperti seorang milenial yakni : Pandangan Keagamaan (Religion Beliefs), Ideologi dan Partisipasi Politik (Ideology and Politic Participation), Nilai-Nilai Sosial (Social Values),

About i.s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *