Kepemimpinan Chapter III

Pemimpin juga harus mengenal dengan baik sifat-sifat pribadi para pengikutnya dan mampu mengerakkan semua potensi para pengikutnya, dan mampu menggerakan semua potensi dan tenaga anak buahnya seoptimal mungkin dalam setiap gerak usahanya, demi suksesnya organisasi. Juga bisa mengembangkan dan memajukan penganutnya menuju pada progress dan kesejahtraan, dengan begitu anak buah akan menjadi patuh dan secara sukarela serta sadar bersedia bekerja keras menggapai sasaran-sasaran yang sudah ditentukan. Bila perlu bersedia mengorbankan harta benda, raga dan nyawa sekalipun demi mencapai kebahiaan bersama.

Efisiensi Kepemimpinan Dalam perurutan waktu yang relatif menjadi semakin pendek, kualitas pekerjaan dan tugas pemimpin mengandung banyak sekali dimensi inovasi (pembaruan, perubahan baru) dan perubahan-perubahan serba cepat, yang menjadi semakin dipercepat pada zaman modern. Pemimpin harus mampu menyusun kebijakan yang bijaksana, dan mampu mengadakan seleksi secara cermat tepat dari banyak alternatif jadi memiliki kemampuan penentuan keputusan atau decision making yang tepat.

Kemampuan Kepemimpinan Jika tugas anggota biasa berkualitas statis lebih banyak pasif dan patuh mengikuti, maka tugas pemimpin sifatnya dinamis, kreatif, inovatif, unik, lentur, luwes atau flexible dan tidak banyak dibatasi oleh standar serta norma-norma ketat. Sebab, pemimpin itu setiap saat akan dikonfrontasikan dengan peristiwa-peristiwa baru yang belum dikenal sebelumnya dan tidak pasti. Dia juga harus menghadapi masalah-masalah pelik di luar perencanaan umum Pemimpin.

Kewibawaan Kepemimpinan Pada struktur piramida, pemimpin tertinggi mempunyai kawibawaan tertinggi, kekuasaan paling besar dan pertanggungjawaban paling berat, sekaligus memikul resiko paling besar. Ditangannyalah terletak nasib hidup dan kesejahteraan seluruh pengikutnya. Namun sebaliknya, oleh tangan pemimpin pula bisa disebarkan kesengsaraan dan penderitaan, apabila kekuasaanya dilaksanakan dengan sewenang-wenang sehingga dia patut dijuluki dengan “noire bête” atau “ si bintang hitam” yang buas kejam.

Kekuasaan Kepemimpinan Pemimpin harus sanggup berpikir kreatif, orisinil, otentik dan futuristic (bisa melihat jauh ke depan). Dia akan banyak menyandarkan aktivitasnya pada daya imaginasi sendiri, sehingga dia bisa kreatif. Di samping memiliki kekuasaan dan kewibawaan, pemimpin harus mampu membangunkan sikap kooperatif dan partisipatif pada setiap pengikutnya, agar mereka bersedia memberikan kontribusi sebesar-besarnya kepada organisasi. Dengan demikian sikap kooperatif para anggota itu merupakan faktor dependensi atau ketergantungan pemimpin kepada anak buah atau pengikut-pengikutnya sekaligus juga menjadi tekanan psikologis bagi pemimpin.

Karena itu fungsi pemimpin adalah unik, yaitu terayun-ayun antara dilema “kebebasan kekuatan kekuasaan” dan “kelemahan ketergantungannya” kepada para pengikutnya. Maka seni memimpin mencakup kesanggupan mampu mencari keseimbangan di antara dua dimensi yang polair atau berlawanan itu. Oleh kekuasaan dan kewibawaannya, pemimpin juga berfungsi sebagai juri (wasit) dan hakim bagi segala konvensi dan “permainan” organisasi. Karena itu dia memiliki tanggung jawab moril atau etis yang lebih besar daripada anggotan biasa,
agar dia mampu menjamin proses humanisasi dan keadilan dalam organisasi. Seorang pemimpin, karena status dan tugas-tugasnya mengepalai satu unit (instansi, kelompok, orgnisasi dan lain-lain) pasti mempunyai kekuasaan. Kekuasaan seorang pemimpin ini sumbernya bisa datang dari :
1. Kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang lain.
2. Sifat dan sikapnya yang “unggul”, sehingga mempunyai kewibawaan terhadap penganut penganutnya.
3. Memiliki informasi, pengetahuan dan pengalaman luas yang lebih banyak kaya-kaya.
4. Pandai bergaul dan berkomunikasi, memiliki kemahiran human relation yang baik.

Jelaslah kini bahwa seorang pemimpin dengan kepemimpinannya itu mampu mempengaruhi, mengubah dan mengarahkan tingkah laku bawahan atau orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Maka untuk menentukan pesyaratan-persyaratan seseorang menjadi pemimpin, William G. Scoutt mengemukakan beberapa pendekatan, yaitu:
1. The “Great Man” approach (pendekatan “Orang Besar”).
2. The trait approach (pendekatan ciri atau sifat).
3. The modified trait approach (pendekatan ciri yang sudah diubah).
4. The situasional approach (pendekatan situasional).
Scott menyatakan, bahwa semua kelompok, baik yang formal maupun yang informal selalu membutuhkan pelaksanaan fungsi-fungsi kepemimpinan karena semuanya akan menentukan siapakah pemimpinnya, dan siapa pula yang akan dipimpin dalam satu gerakan atau kegiatan organisasi. Pendekatan “orang besar” menyatakan adanya kemampuan yang luar biasa dari seorang pemimpin, sehingga dengan segenap kualitas unggulnya dia dapat membawa para pengikut kepada sasaran yang ingin dicapai.

Sifat-sifat utamanya antara lain adalah inteligensi tinggi, kemampuan berkomunikasi dan kepekaan terhadap iklim psikis kelompoknya. Pendekatan trait atau sifat-sifat, menyatakan sederetan sifat-sifat unggul, sehingga pemimpin mampu mempengaruhi para pengikutnya
melakukanya Contohnya, seorang kapten pilot pesawat terbang yang mengalami pendaratan darurat di daerah rawa-rawa atau daerah hutan belukar, belum tentu mampu menjadi pemimpin dan petunjuk jalan atau pemandu di daerah hutan dan rawa tersebut. Dia akan rela menyerahkan kepemimpinan “ke luar dari daerah paya dan hutan” kepada seorang yang terbiasa hidup di daerah sedemikian itu. Jadi, sifat-sifat fungsional kepemimpinan itu erat berkaitan dengan situasinya. Keadaan darurat dan kondisi lingkungan dapat mendorong seseorang-siapapun juga untuk menjadi pemimpin.

About Is

Check Also

Komunikasi Kelompok

Komunikasi mempunyai andil membangun iklim organisasi, yang berdampak kepada membangun budaya oranisasi, yaitu nilai dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *