Mitos Mitos Kepemimpinan

Seorang pemimipin idealnya memiliki kemauan dan kemampuan untuk membangun kerja bersama sama dan memiliki semangat yang tinggi untuk mencapainya. Kemauan dan kemampuan ini adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kemauan dan kemampuan ini tidak bersifat seragam, tetapi berbeda-beda kadarnya pada setiap pemimpin. Para pemimpin yang memiliki semangat tinggi untuk mencapai kemajuan akan menunjukkan peran-peran yang dinamik, enerjetik dan progresif. Mitos ini menekankan pada faktor keturunan.

Mitos The Birthright Myth : pemimpin itu dilahirkan bukan dihasilkan. Para pendukung mitos ini berkeyakinan bahwa seorang pemimpin itu memang dari sananya sudah ditakdirkan sebagai pahlawan yang bercirikan memiliki kekuatan fisik, semangat, kemampaun dan kebijaksanaan yang super berbeda dengan orang biasa. Pemimpin-pemimpin dunia seperti Soekarno, Gamal Abdul Nasser dan sebagainya adalah tokoh-tokoh yang oleh para pendukung mitos ini dipandang sebagai contoh nyata kebenaran.

Mitos The For All Seasons Myth : sekali pemimpin tetap pemimpin. Mitos ini menekankan pada faktor karakter dan prestasi yang dicapai (track record). Pada kenyataannya, mitos ini tidak selamanya benar karena keberhasilan seseorang, termasuk pemimpin sebenarnya tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Jadi, keberhasilan seorang pemimpin pada masa lalu dalam jabatan dan pekerjaannya yang dulu, dipengaruhi oleh kondisi atau situasi yang ada saat itu. Dalam kondisi dan situasi yang lain, belum tentu keberhasilan yang sama dapat dia capai sebagus yang pernah dicapainya.

Contoh serombongan regu SAR yang sudah sangat terlatih dan berpengalaman memberikan pertolongan dan penyelamatan korban-korban musibah bencana alam, melakukan ekspedisi arung jeram disungai yang lokasinya masih perawan bersama dengan beberapa orang anggota SAR pemula. Mulanya rombongan ini berangkat tanpa ada pemimpin, artinya semua anggota menjadi pemimpin sekaligus anggota. Dalam perjalanan, rombongan ini terhadang musibah longsor besar yang mengakibatkan jalan untuk maju maupun kembali, tertutup.

Mengahadapi bencana ini, anggota SAR yang sudah sangat terlatih dan berpengalaman mengahadapi hal-hal semacam ini, menjadi orang-orang justru takut dan panik sehingga tidak mampu mengaambil inisiatif mencari jalan keluar dari kep sehubungan longsor. Sebaliknya anggota pemula, karena belum pernah mengalami kejadian semacam itu sehingga tidak mengetahui besarnya bahaya yang dihadapi, menjadi sangat tertantang dan bergairah untuk mempraktikkan ilmu-ilmu yang selama ini dipelajarinya. Akhirnya rombongan ini berhasil keluar dari kepungan longsor dengan selamat justru karena kerja baik anggota SAR pemula.

Berdasarkan mitos the For All Seasons, seharusnya para anggota SAR yang sudah sanagat terlatih dan berpengalaman banyak itu menjadi orang-orang yang mampu menjadi pimpinan dalam mencari jalan kelaur dari kesulitan yang dialami rombongan. Pada kenyataannya, justru anggota SAR pemula yang masih belum terlatih dan belum berpengalaman menghadapi medan musibah nyata yang justru tampil menjadi pimpinan yang mampu mencari alternatif jalan keluar dari kepungan longsor dan berhasil.

Contoh diatas memberikan gambaran betapa sesungguhnya keberhasilan seorang pemimpin pada situasi dan kondisi satu belum tentu dapat ditransfer ke keberhasilan kepimpinan pada situasi dan kondisi yang lain.

Mitos The Intensity Mith : pemimpin itu memiliki intensitas perasaan lebih tinggi dibanding orang kebanyakan. Mitos ini berkeyakinan bahwa seorang pemimpin memiliki kedalaman dan keluasan perasaan yang jauh dibanding orang-orang kebanyakan. Intensitas perasaan ini bisa beragam bentuknya salah satunya intensitas emosional. Mereka lebih emosional dibanding orang-orang kebaanyakan. Jadi, jika kalau seorang pemimpin marah dikantor, bawahan lebih baik mengikuti saja, jangan melawan atau menunjukkan sikap yang melawan.

Menurut mitor marah (the anger myth) ini didasari pandangan teori x yang dikemukakan oleh Douglas McGregor yaitu bahwa manusia itu pada dasarnya membenci pekerjaan yang harus dikerjakannya sehingga mereka perlu digerakkan dengan tongkat kemarahan agar mau menegerjakan pekerjaannya denga baik. Menurut teori X cara yang tepat untuk membuat orang menyukai pekerjaan yang dibencinya adalah dengan memarahi dan menghukumnya.

Bentuk intensitas perasaan yang lain adalah rasa percaya diri, optimistik dan penuh semangat. Jadi, seorang pemimpin selain harus bisa galak dan tegas, juga harus memiliki kepercayaan diri yang kuat, selalu optimis dan selalu penuh semangat dalam mengarahkan dan memimpin anak buahnya atau organisasinya. Kriteria bos tergalak anatar lain : tidak mau mendengar kata tidak, keras dalam mengarahkan, tidak sabar, pemarah, mudah tersinggung, kasar, kaku dan perasaannya mudah berubah-ubah.

Kiat kiat Kepemimpinan, jangan percaya penuh pada mitos the Birthright. Pemimpin itu dapat diciptakan (are made), baik melalui bantuan lingkungan maupun atas upayanya sendiri (self-made). Perhatikan mitos For All Seasons tak seoarang pun pemimpin hanya memiliki bakat. Hindari mitos Intensity atau Anger jangan memotivasi orang dengan cara-cara kekerasan dan kemarahan.

Mitos pemimpin adalah pandangan-pandangan atau keyakinan-keyakinan masyarakat yang dilekatkan kepada gambaran seorang pemimpin. Mitos ini disadari atau tidak mempengaruhi pengembangan pemimpin dalam organisasi. Ada 3 mitos yang berkembang di masyarakat, yaitu mitos the Brithright, the For All Seasons, dan the intensity. Mitos the Brithright berpandangan bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dihasilkan (dididik) mitos ini berbahaya bagi perkembangan regenerasi pemimpin karena pantas menjadi pemimpin adalah orang yang memang dari sananya dilahirkan sebagai pemimpin, sehingga yang bukan dilahirkan sebagai pemimpin tidak memiliki kesempatan menjadi pemimpin.

Mitos the For All Seasons berpandangan bahwa sekali orang itu menjadi pemimpin selamanya dia akan menjadi pemimpin yang berhasil. Pada kenyataanya, keberhasilan seorang pemimpin pada satu situasi dan kondisi lainnya. Mitos the Intensity berpandangan bahwa seorang harus bisa bersikap tegas dan galak karena pekerja itu pada dasarnya baru akan bekerja jika didorong dengan cara yang keras. Pada kenyataannya kekerasan mempengaruih peningkatan produktivitas kerja hanya pada awal-awalnya saja, produktivitas seterusnya tidak dapat dijamin. Kekerasan pada kenyataannya justru dapat menumbuhkan keterpaksaan yang akan dapat menurunkan produktivitas kerja.

Leave a Comment